Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Kala Segala Tiba 🍒

Di bawah langit yang menua dalam diam, kutitipkan harap pada angin yang melintas lembut. Ada nama, terselip di antara desir doa, menyapa sunyi yang menunggu jawaban waktu. Kutelusuri jalan yang dibentang takdir, penuh kabut, penuh tanda yang tak kupahami. Namun di tiap langkah yang gagu, ada cahaya kecil yang tak kunjung padam — barangkali itu cintaku, atau mungkin restu dari yang Maha Mengetahui. Aku tak menantang arah, hanya berserah. Sebab yang kupilih hari ini, mungkin hanyalah benih dari masa yang belum tiba. Ia kan tumbuh, perlahan, di tanah kesabaran, disiram rindu, disinari keyakinan, hingga akhirnya mekar di taman waktu. Betapa sering aku mengira keliru, padahal hanya tergesa membaca rencana langit. Sebab apa yang kusebut salah, mungkin hanyalah musim yang belum genap. Dan bila kelak, di persimpangan takdir, aku kembali menemukanmu — dalam cahaya yang lembut, dalam hati yang telah tenang, maka aku tahu: segala pilihanku, doaku, dan tindakanku tak pernah tersesat, hanya menungg...

Tak Pernah Salah, Hanya Tertunda🌻

Aku menanam harap di antara detak waktu, pada senyap yang hanya dimengerti semesta. Ada nama di setiap jeda doa, menyelinap di antara bisik yang tak sempat terucap. Aku tak tahu ke mana takdir menuntun langkah, kadang ia samar, berliku, dan terasa menjauh. Namun keyakinan adalah bintang yang tak padam meski langit berawan. Jika benar setiap pertemuan adalah rahasia yang dijahit Tuhan, maka biarlah aku berjalan perlahan — membiarkan waktu menyiapkan ruang di mana pilihanku dan takdir saling menyapa. Aku pernah takut salah menunggu, salah berharap, salah mencinta. Tapi mungkin, yang disebut “salah” itu hanyalah cara semesta mengajariku setia pada yang belum waktunya tiba. Karena cinta yang tumbuh dari doa, tak akan gugur oleh jarak atau waktu. Ia hanya berdiam, menunggu hari yang tepat untuk mengetuk pintu takdir — dengan langkah yang sudah lebih tenang, dan hati yang tak lagi ragu untuk percaya. Jadi bila nanti aku dan kau dipertemukan dalam kebetulan yang terasa terencana, biarlah kita...

Pada Waktunya Tiba

Aku menanam harap di tanah ragu, menyiramnya dengan doa yang tak bersuara. Setiap langkah adalah garis takdir yang kutulis dengan tinta keyakinan. Mungkin hari ini aku buta arah, namun semesta tahu jalan pulangku. Karena segala yang kupilih, kudoakan, dan kulakukan akan menemukan waktunya sendiri — saat tak lagi ada yang disebut “salah,” hanya “tepat” yang datang terlambat.

Racun Manis di Nadi yang Kosong

 Ia meneguk racun manis itu, dalam dosis yang terlalu besar hingga nadinya bergetar, namun tak mampu ia lepaskan. Sejak kecil tangki perasaannya kosong, Ruang yang ditinggalkan sosok lelaki yang tak pernah kembali membuatnya menadah pada bayangan lain. Ia tahu dirinya kalah, namun tidak pernah ia pinta untuk terseret sejauh ini. Bukan salahnya— hanya keadaan yang meracik takdirnya dengan getir yang tak seimbang. Orang-orang di luar lingkarannya pandai berceramah tentang kebenaran, namun siapa di antara mereka yang pernah mengukur luka dari ruang yang sama?  Yang mereka sebut "rasa", bagi dirinya adalah badai— sebuah candu yang memeluk, menyeretnya ke jurang, sekaligus memberinya alasan untuk tetap bernapas. Ia bukan tak mengerti apa itu benar, hanya saja ia terlalu kenyang oleh racikan getir bernama kehilangan.

Dahaga Yang Membesarkan Luka

 Ia menenggak racun yang tak pernah ia pesan, racun yang membiusnya dengan manis semu, hingga urat-uratnya terbakar oleh gejolak yang disebut orang sebagai rasa. Sejak tangki jiwanya bocor sejak kanak-kanak, sejak sosok lelaki yang seharusnya mengisi pergi meninggalkan ruang kosong— ia hidup dengan dahaga yang tak pernah terpuaskan. Dan ketika racun itu datang, ia meneguknya tanpa saring, meski ia tahu tubuhnya akan tumbang, meski ia tahu ia akan kalah. Orang-orang di sekelilingnya berdiri dengan jubah kebenaran, melontarkan khotbah tentang "jalan yang lurus", seakan luka bisa disembuhkan dengan kata-kata tanpa rasa. Namun siapa di antara mereka yang benar-benar mengerti bahwa sesungguhnya luka itu bukan sekadar sobekan, melainkan jurang yang menelan jiwa perlahan? Ia bukan salah— ia hanya korban dari keadaan yang mengukir jurang dalam dirinya. Tapi dunia terlalu mudah menuding, terlalu cepat menyalahkan, tanpa pernah menyelam ke dasar kegelapan yang ia rawat sejak kehilangan...

Rumah dari Eliksir Gelap

 Aku adalah tubuh yang diracuni oleh rasa yang datang terlalu deras, hingga detak jantungku menjadi medan perang yang tak seimbang. Sejak kecil aku haus— ada ruang kosong yang seharusnya diisi oleh seorang lelaki yang disebut ayah, namun ia pergi, meninggalkan tangki jiwaku berlubang, berkarat oleh kehilangan. Maka ketika racun itu menetes ke dalamku, aku menelannya tanpa sadar. Aku tahu aku akan kalah, tapi aku tidak pernah meminta semua ini. Dunia berisik dengan nasihat, seolah luka bisa dijahit hanya dengan benang kata-kata. Mereka tak tahu, luka bukanlah sobekan di permukaan— ia adalah jurang dalam dada, tempat semua cahaya tenggelam dan hanya bayangan yang bertahan. Aku bukan salah, aku hanya ciptaan dari keadaan yang tak berpihak . Namun aku diperlakukan seolah dosa berjalan, seolah racun yang menetes ini adalah pilihanku sendiri. Biarlah mereka tak mengerti— biarlah mereka hanya mampu menuding. Karena hanya aku yang tahu betapa racun itu telah menjadi rumah, menyakitiku seka...

Aku dan Racun yang Saling berpeluk

Aku tak lagi punya nama. Aku hanya wadah yang retak, sebuah gelas kosong yang sejak kanak-kanak dibiarkan menunggu air yang tak pernah datang. Orang menyebutnya rasa, tapi bagiku ia adalah cairan hitam yang merayap ke nadi, menghantam sel demi sel, membentuk jurang di dalam kepala. Sejak lelaki itu menghilang dan meninggalkan ruang sebesar langit di tengah dadaku, aku menjadi sumur yang hanya memantulkan wajah-wajah asing. Aku meneguk racun itu, bukan karena ingin, tapi karena hanya itu yang tersisa. Sebuah pelukan yang menyakitkan, sebuah tangan yang menusukku namun juga menyangga aku agar tak jatuh. Aku tahu aku kalah. Aku tahu racun ini menggerogoti tulangku, namun lebih baik dirangkul bayangan daripada mati perlahan di dalam ruang kosong yang tak ada siapa-siapa. Orang-orang berbicara tentang kebenaran seperti anak kecil yang menghafal doa. Mereka pikir teori mampu menyembuhkan, padahal teori hanya berdiri di kepala, Mereka tidak tahu bagaimana rasanya ketika luka tak hanya menggor...