Tiada Hati Tempatku Berpulang
Aku pulang,
tapi pintu sudah lama terkunci,
dan jendela menutup rapat pada wajahku.
Tidak ada cahaya yang menunggu,
tidak ada suara yang memanggil namaku.
Aku asing,
bahkan pada rumah yang dulu kusebut pulang.
Dinding-dindingnya retak oleh sepi,
dan hatiku ikut patah,
mencari ruang yang tak pernah ada.
Seandainya ada satu hati,
satu dada untuk aku sandarkan lelahku,
mungkin malam tak akan sepanjang ini,
mungkin luka tak akan sedalam ini.
Tapi kenyataannya—
aku berjalan tanpa tujuan,
menyusuri hari tanpa kepulangan.
Karena benar,
tidak ada hati yang sudi menjadi tempatku berpulang.
Komentar
Posting Komentar