Senja di Antar Kita
Bolehkah aku bertanya,
sebelum langit benar-benar menutup hari,
hati siapa yang sedang kau jaga
di tengah deras hujan yang kerap kau sebut doa?
Aku berdiri di tepi pantai,
menunggu perahu yang tak pernah berlayar.
Kau biarkan aku menggenggam angin,
sementara arah anginmu entah berlabuh pada siapa.
Aku ingin percaya,
bahwa ombak yang kau kirimkan
adalah panggilan untukku,
namun setiap kali aku mendekat,
suaramu justru karam di samudra sunyi.
Di antara rinai hujan,
aku belajar menebak langkahmu,
apakah mendekat untukku,
atau menjauh bersama bayangan
yang sejak awal bukan aku.
Senja menjadi saksi,
aku menunggu jawaban
sambil menakar luka di dadaku sendiri.
Apakah aku harus maju,
menjadi cahaya kecil yang terus memelukmu
meski terancam padam?
Atau harus mundur,
meninggalkan dermaga yang tak pernah benar-benar
menyebut namaku?
Aku bukan takut kehilangan,
aku hanya takut terus menggenggam ilusi
yang kau biarkan tumbuh
di taman hatiku yang sepi.
Jujurlah—
biar aku rela dilumat gelap,
biar aku rela hancur seperti hujan di aspal,
asal aku tahu,
bahwa hatimu bukan rumah
yang kucari selama ini.
Karena diam-mu adalah badai,
dan ketidakjelasanmu
adalah ombak yang perlahan menenggelamkanku.
Maka izinkan aku bertanya untuk terakhir kali:
apakah aku pelabuhanmu,
atau sekadar kapal asing
yang singgah tanpa pernah kau inginkan kembali?
Komentar
Posting Komentar