Mengapa Masih Kamu



Aku bertanya pada diriku sendiri,

mengapa setelah sekian luka menetes

aku masih memilih menenggak racun bernama kamu?


Bukankah setiap perih seharusnya jadi tanda

untuk berhenti, untuk pergi,

untuk menutup pintu dengan rapat—

namun aku justru kembali,

mengetuk, menyerahkan kunci,

seolah tak kuasa melupakanmu.


Ada bagian dari diriku

yang bodoh sekaligus setia,

yang percaya bahwa di balik luka yang kau ukir

terselip alasan kecil

yang membuatku terus bertahan.


Dan benar, aku benci rasa ini,

benci bagaimana namamu masih bersemayam

di ruang hatiku yang retak,

benci bagaimana setiap kenangan

menjadi candu yang tak bisa kularang.


Kau mungkin tak tahu,

atau sengaja tak peduli,

bahwa aku masih berdiri di ambang pintu

meski badai berkali-kali menumbangkan hatiku.


Mungkin aku tak pernah benar-benar mencintaimu

sebagai manusia yang nyata,

tapi mencintai bayanganmu,

harapan tentangmu,

doa yang kugenggam meski tak pernah sampai padamu.


Dan untuk semua luka yang kau beri,

aku tetap memilih menanggungnya—

sebab lebih menyakitkan lagi

jika aku harus melanjutkan hidup dengan  

dirimu yang masih ada di hatiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Segala Tiba 🍒