Anak Perempuan Berayahkan Semesta

Ia tumbuh tanpa bahu seorang ayah,

Ayahnya tak hadir dalam bentuk manusia,

tetapi hadir dalam wujud semesta,

yang menguatkan meski tak pernah memeluk.


Sejak itu ia belajar,

bahwa pangkuan yang paling hangat adalah doa-doanya sendiri,

dan tangan yang paling setia adalah jemari kecilnya

yang tak pernah berhenti menggenggam harapan.


Malam-malam panjang ia bertanya,

"Siapa yang akan menuntunku saat langkahku goyah?"

Lalu langit menjawab dengan bintang,

"Berjuanglah, Nak, semesta adalah ayahmu,

tapi kekuatan ada dalam dadamu sendiri."


Ia tumbuh bukan dari kemewahan,

melainkan dari luka yang dipelajari,

air mata yang disulam jadi cahaya,

dan kesepian yang dipahat menjadi keberanian.


Anak perempuan berayahkan semesta,

ia bukan sekadar bertahan,

ia adalah bukti,

bahwa sekalipun tanpa sandaran manusia,

jiwa yang tabah bisa menumbuhkan sayap.


Dan kelak,

ketika dunia menunduk padanya,

semesta berbisik lembut,

"Aku memang tak pernah ada di sisimu dalam rupa seorang ayah,

tapi aku selalu ada di jalanmu,

membentukmu menjadi cahaya yang tak pernah padam."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Segala Tiba 🍒