Jika Harus Sembunyi


Kau bilang,
kita sahabat,
selamanya.
Dan aku mengangguk,
sambil menyembunyikan luka
yang bahkan belum sempat berdarah.

Karena bagaimana bisa aku jelaskan,
bahwa setiap tawamu menumbuhkan bunga
di tempat yang tak seorang pun tahu?
Bahwa setiap genggaman tanganmu
menenangkan badai yang bahkan aku sendiri tak mengerti?

Kita duduk berdua,
kau cerita tentang dia,
yang membuat hatimu berdebar.
Dan aku di sini—tersenyum,
sementara jiwaku bergetar hancur dalam senyap.

Aku mencintaimu,
dalam cara yang tak kau duga.
Dalam diam yang kubangun
dari ketakutan kehilanganmu
jika kejujuran datang terlalu cepat.

Aku mencintaimu,
lebih dari yang boleh.
Lebih dari yang semesta izinkan
untuk dua orang yang hanya disebut "sahabat".

Aku tak ingin mengubah segalanya,
aku hanya ingin kau tahu,
bahwa jika suatu hari dunia membuatmu sendiri—
aku akan tetap di sini,
dalam diam yang tak menuntut balas,
dalam setia yang tak pernah diberi nama.

Tapi Tuhan tahu,
yang paling membuatku takut
bukan kau tak mencintaiku balik,
tapi saat kau benar-benar tahu…
dan memilih pergi.

Maka jika ini harus usai,
jangan di sini.
Jangan pada tawa terakhir,
jangan pada genggaman terakhir.

Biarlah cintaku diam,
asal jangan kau yang hilang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kala Segala Tiba 🍒