Antara Aku dan Langit
Aku punya doa—
yang kupanjat di tengah malam
saat semua tertidur,
dan air mataku jatuh
lebih dulu dari kata "Amin".
Aku punya harap—
yang kusembunyikan dalam dada
karena dunia terlalu bising
untuk mendengar luka yang tak berdarah.
Setiap hari aku melangkah,
dengan tubuh lelah, hati patah,
berharap satu pintu terbuka…
tapi yang datang hanya dinding-dinding sunyi
dan kabar yang tak kunjung baik.
Aku punya usaha,
bukan satu, bukan dua,
tapi semua yang kumiliki
kutaruh dalam perjuangan ini.
Tapi takdir bukan hasil instan,
bukan selalu milik hari ini,
bisa jadi jawabannya masih disimpan,
karena Allah menulis dengan kebijaksanaan
yang belum kita mengerti.
Karena Allah punya takdir
yang sering tak bisa kumengerti—
mengapa yang kucinta dijauhkan,
mengapa yang kuperjuangkan diambil,
mengapa yang kuharap… tak menjadi nyata.
Aku menangis bukan karena lemah,
tapi karena aku tahu,
sekuat apa pun aku menggenggam,
jika Dia tak mengizinkan,
semua akan pergi.
Jadi kini, aku diam.
Tak lagi banyak bertanya.
Hanya berharap,
Allah tak lupa
bahwa aku pernah sungguh-sungguh.
Komentar
Posting Komentar