Doa yang Tak Lagi Romantis
Ada cinta yang tumbuh dari luka,
yang mekar diam-diam di tanah haram rasa,
tak diminta, tak direncanakan,
namun menetap seperti doa yang keliru arah.
Aku berjalan dalam labirin rasa,
memeluk bayangan yang tak pernah menjadi nyata.
Cinta ini bukan jalan—
ia persimpangan yang terus menyesatkan.
Kubiarkan hati berkabar tanpa alamat,
mengetuk pintu yang tak pernah terbuka,
menyulam puisi dari diam seseorang,
menjadi doa yang tak pernah naik ke langit.
Bila mencintai adalah ibadah,
mengapa rasa ini mengikis iman?
Jika menanti adalah bukti kesetiaan,
mengapa aku merasa hampa, bahkan saat berdoa?
Aku bukan nabi cinta,
hanya manusia biasa yang kelelahan
membangun rumah di hati orang
yang tak pernah mengizinkan masuk.
Tuhan…
bukan aku tak ingin mencinta,
tapi aku ingin pulang,
pada versi diriku yang tidak retak setiap kali senja datang.
Pada malam-malam yang tenang,
yang tak dihantui tanya:
"Apakah aku pernah benar-benar hadir di hatinya?"
Hapuskan, Tuhan—
hapuskan rasa ini sebelum aku berubah jadi batu:
dingin, diam, dan tak lagi percaya pada hangatnya hati.
Biarkan cinta ini gugur seperti daun tua,
bukan karena benci,
tapi karena aku ingin damai—
tanpa harap yang menggantung,
tanpa luka yang tak sembuh.
Jika memang harus mencinta,
ajarkan aku mencinta yang membebaskan,
bukan yang memenjarakan dalam rindu sepihak.
Jika harus sendiri,
jadikan kesendirian ini rumah,
bukan pengasingan.
Masyaa allah
BalasHapus